Archive for September, 2008

MI ITem ? Siapa takutttt…

Posted in Cuisine on September 30, 2008 by judyoplasma

Lokasi : Kemang Food Festival
Jalan Kemang Raya 19C
tel : 719 7105

Jakarta – Mi yang satu ini memang beda? melihat tampangnya yang berwarna hitam tak menarik mata, mungkin membuat Anda sudah tak ingin mencicipinya. Eits, tapi jangan salah… cobain dulu rasanya. Dijamin Anda pun bakal ketagihan!

Mungkin inilah pertama kalinya saya mencicipi mi berwarna hitam pekat ini. Sebelumnya memang mi yang biasa saya makan hanyalah berwarna kuning standar. Meskipun dulu juga pernah mencicipi spaghetti yang warnanya hitam pekat persis dengan mi item ini, disalah satu hotel di Jakarta. Jadi ketika mencicipi mi hitam yang berada di salah satu resto di bilangan Kemang ini, saya sudah tak begitu terkejut lagi.

Kok bisa sih warnanya hitam? Menurut sang pelayan yang kebetulan restonya juga bernama sama yaitu ‘Mi Item’, warna hitam mi ini berasal dari tinta cumi. Jadi bukan menggunakan zat pewarna atau sejenisnya, nah inilah dia yang membuat rasa mi menjadi lebih gurih…

Oya, karena terbuat dari tinta cumi yang masih fresh, jadinya tak perlu khawatir gigi yang memakannya menjadi hitam. Karena tinta cumi ini tidak bakal meninggalkan bekas sama sekali…

Di daftar menu ada 6 pilihan racikan mi hitam, yaitu Mi Item Aglio Olio, Mi Item with Fermented Prawn, Rujak Kerupuk Mi Item, I Fu Mi Item, Cwie MieItem, dan Mi Item Goreng Jawa. Hidangan pun disajikan tidak seperti lazimnya restoran lain yang memakai piring atau mangkuk, melainkan dengan kotak segi empat kecil yang juga berwarna hitam.

Jika ingin menyantapnya mi langsung dimakan dari kotak-kotak tersebut dengan menggunakan sumpit. Slurppp… sedap! Tekstur minya benar-benar lentur, kenyal, dan gurih… Untuk melengkapi mi item ini ada pilihan es teh dengan aroma buah, es teh serai, atau banana & frozen Earl Grey. Nah, benar kan? gak usah takut menyantap mi item yang lezat ini!

sumber : detik.com

Harga 20.000 – 25000 IDR ( makanan ) ,
8500-20000 (minuman )

Bakso di Jakartaaaa

Posted in Cuisine on September 26, 2008 by judyoplasma

wah udah lama ga ngepost yaaaaa…

 

oh ya setelah keliling jakarta

mungkin ada beberapa warung bakso yg menurutku cukup enak

1) bakso Ciatt..Cempaka Putih

Gang Kabel Bawah, Rt 04/Rw 07, Cempaka Putih Barat 25, Jakarta Pusat

buka dari jam 10:30-22:00

warung bakso yang sudah ada sejak tahun 1990 ini menurut aku cukup lezat.. … Walaupun jalannya sempit ( maklum gang) dan cuman bisa parkir 6 motor, pengunjungnya banyak bgd ..gak cuman dari sekira cemput, tpi ada juga dri daerah2 lain yang cukup jauh dr cemput

 

soal harga , ga usah khawatir cukup 7000 perak ajah… murah kannn??

2) bakso atom

ada y g pernah denger bakso atom gaaaa??? dulu sih lokasinya di pati unus ( skrg udah ga ada. pindah kemana yaaa))

nah pokoknya di baso atom ini ada beberapa jenis bbakso,, ada bakso keju< bakso sumsum , bakso otak, bakso urat, bakso telor dll

tpi yg paling khas itu bakso jkejunyaa.. wah enak bgddddd.. banyak bgd yg niru bakso kejunya.. tp so far paling enak ya disiniii

3)Mie Lares,
Lokasi : tebet

yg khas mie gorengnya enak… di masak pake anglo.. bumbunya yg enak.. cobaina ajh sendiri

 

4) Bakmi Ahoy

Bakmi Ahoy,
di Belakang apotek Jembatan Dua, sebrang sekolah Nazaret,Jak-Ut
Kalo malem ada di jalan angke, sebelum lampu merah…,
yang jualan mie ayam, bihun ayam, nasi tim ayam, lao chu phan, kwe tiaw ayam.
makanannya Haram.
Katanya sih, …Makanannya enak banget!!! Rasa dagingnya gurih banget, pokoknya selera chinese gitu deh……..Harganya si ga mahal, 1porsi sekitar 10-15rb…

 

 Bakmi Asui,
di Tanjung duren, Jakarta-Barat,
makanannya Tidak tahu.
Katanya sih, …Ada di daerah tanjung duren, tapi cabangnya baru buka di Green Garden, Jakarta-Barat, kurang lebih di seberang pom bensin Green Garden. Bakminya enak banget, agak kenyal, gak lembek, pake daging ayam rebus. Kuah kaldu ayamnya kerasa banget, pake sayurnya sayur fumak. Halal. Walaupun harganya sedikit lbh mahal, tapi gak nyesel deh……

Hijrah ke Jakarta, Jadi PETANI

Posted in Kota jakarta, Profil on September 23, 2008 by judyoplasma


Carman (kiri) bersama tiga pekerjanya, Sutin, Damu, dan Sawan beristirahat sejenak di pinggir sawah garapan mereka di Jl Rawa Binong, Lubang Buaya, Jakarta Timur. Pria asal Indramayu ini sudah menjadi warga Jakarta dan merantau ke Ibukota menjadi petani.

Jakarta masih menjadi magnet warga desa di penjuru Tanah Air. Tak heran, setiap tahun ribuan pendatang baru dari pelosok-pelosok daerah datang ke Ibukota yang kini berpenduduk sekitar 10 juta ini. Mereka mengadu nasib, menjalani kehidupan yang keras, dan terkadang menantang risiko, demi kehidupan lebih baik.

Hal itulah yang dilakukan Carman (35), warga Indra- mayu, Jawa Barat. Impitan ekonomi dan kemiskinan hidup di Indramayu yang memaksanya merantau ke Ibukota. Ketika itu, usianya belum genap 17 tahun. Mimpinya, dia ingin bekerja di salah satu dari ratusan gedung pencakar langit di Jakarta, seperti yang kerap dilihatnya di TV.

Bagi banyak orang desa, termasuk Carman, Jakarta menawarkan mimpi yang menggiurkan. Tapi, mimpi itu belum terwujud sampai sekarang.

Carman, yang hanya mengenyam pendidikan hingga kelas 5 SD itu, bertahun-tahun bergulat mencari sesuap nasi. Berbagai profesi dia tekuni.

Anak petani ini sempat menjadi pedagang buah. Dia juga pernah beberapa tahun bekerja menjadi kuli kontrak di salah satu perusahaan swasta rekanan PLN di Kebayoran, Jakarta Selatan.

“Saya tidak punya ijazah SD, makanya sulit mendapat kerja di sini (Jakarta, Red). Bertahun-tahun saya ikut teman nanam kabel listrik untuk PLN ke perumahan- perumahan,” ujarnya saat ditemui pekan lalu.

Dia menyadari, dengan pendidikan yang rendah, pekerjaan yang mengandalkan otot yang paling mungkin dia lakoni. Selepas itu, dia alih profesi menjadi tukang sayur.

Menjadi Petani

Selama di Jakarta, Carman menetap di Lubang Buaya, Jakarta Timur. Dia menikahi Kasiyati, yang juga berasal dari Indramayu.
Di Lubang Buaya, Carman melihat hamparan sawah di sisi Jalan Rawa Binong, Kelurahan Lubang Buaya, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur.

Jika menelusuri jalan raya dari Jl Raya Pondok Gede menuju Setu atau ke arah Bambu Apus, areal persawahan itu ada di sebelah kiri jalan. Warga setempat menyebutnya Jalan Raya Lubang Buaya-Setu.

Dia sempat terkejut, ternyata di Jakarta masih ada sawah, mirip yang ada di kampung halamannya. Sawah di Lubang Buaya itu tidaklah luas, paling sekitar enam hektare (ha). Bau sawah, tanah, dan tanaman padi di Rawa Binong, mengingatkannya pada Indramayu.

Carman terusik, karena sawah itu tak semuanya ditanami padi. Sebagian lahan terbengkalai tak terurus. Sementara di Indramayu, dia dan warga setempat yang notabene petani penggarap, sangat sulit mencari lahan persawahan.

Makanya ketika bertemu sang pemilik lahan, B Bian, pertengahan tahun 2000, Carman langsung menawarkan diri menggarap lahan terbengkalai itu. Gayung bersambut. Dia mendapat izin menggarap sebagian lahan seluas 7.000 meter persegi.
Di Lubang Buaya, Bian memiliki lahan paling luas, sekitar 3 ha. Selebihnya dimiliki H Ramin, Suin, Misar, masing-masing sekitar 1 ha. Juga ada sawah seluas 2.000 meter persegi milik Ocan. Semuanya warga Betawi asli.

Sebagian sawah itu ada yang digarap sendiri, ada juga yang digarap warga sekitar. Hanya Carman yang datang jauh-jauh dari Indramayu menggarap sawah di Lubang Buaya.

“Memang unik, dia datang dari Indramayu ke Jakarta, malah jadi petani. Tapi dia termasuk ulet. Buktinya sekarang dia mampu menggaji tiga anak buah yang didatangkan dari Indramayu untuk kerja di sawahnya,” ujar Jayadi (58), warga setempat yang menjadi petani penggarap di Lubang Buaya.

Hal senada diungkapkan Misar, petani asli Lubang Buaya. Menurut dia, sistem bertani yang diterapkan Carman bagus. Temasuk dalam pengairannya. Carman bahkan bisa mengalirkan air hanya dari selokan kecil di sisi Jalan Rawa Binong. Konon, air itu mengalir dari kawasan Ujung Aspal, Pondok Gede.

Benar juga, saat petani asli Lubang Buaya berhenti bersawah usai memanen akhir Agustus lalu dan areal sawah kering karena belum datang hujan, Carman masih terus beraktivitas. Sawahnya penuh air. Dia masih menanam, tetapi bukan padi, melainkan mentimun dan kacang tanah.
Carman hanya tersenyum jika disindir jauh-jauh merantau ke Jakarta hanya untuk menjadi petani.

“Ya, namanya usaha. Penghasilannya juga lumayan,” katanya.
Menurut ayah tiga anak ini, ketimbang di Indramayu, bertani di Ibukota banyak kelebihannya. Sewa lahan tidak mahal, dan bisa dibayar sehabis panen dengan sistem bagi hasil. Kalau di Indramayu, sebelum menanam, petani harus membayar secara tunai ke pemilik lahan. Makanya, jika gagal panen, petani penggarap akan rugi besar.
“Kalau di sini, toleransi dari pemilik lahan sangat besar. Kalau panen sedikit, pemilik lahan tidak menuntut banyak,” ujarnya.

Pemilik lahan juga tidak meminta bagian untuk tanaman lain yang ditanam Carman di sela-sela musim tanam padi. “Walaupun begitu, setiap ada hasilnya saya pasti bagi,” ujarnya.
Setiap kali panen, dia bisa menghasilkan tiga ton padi. Biasanya, dari hasil sebanyak itu, Carman memberi enam kuintal padi ke pemilik lahan. Dalam setahun, dia bisa panen dua kali.

Hasil panen tidak dijual di Jakarta, tetapi dibawa ke Indramayu untuk digiling menjadi beras. Sebab, harganya jauh beda. Di Jakarta, gabah kering giling harganya Rp 2.000 per kilogram (kg), sedangkan di Indramayu Rp 3.000/kg. Biasanya dia menyewa truk besar untuk mengangkut seluruh padinya ke Indramayu, dengan ongkos Rp 500.000.
Biasanya, Carman menyisakan delapan karung padi ukuran 50 kg untuk persediaan makan di Jakarta. Selebihnya dijual ke Indramayu.

Biaya produksi sekali musim tanam bisa mencapai Rp 3,5 juta. Jumlah itu untuk gaji tiga pekerjanya selama 20 hari sekitar Rp 40.000 per hari (belum termasuk makan dan rokok harian), bibit setengah kuintal, pupuk empat kuintal, obat-obatan dan ongkos angkut padi ke Indramayu. Setidaknya, sekali panen, Carman bisa membawa pulang uang sekitar Rp 2,5 juta hingga Rp 3 juta.
Keistimewaan lain yang dirasakannya dengan bertani di Jakarta, untuk menjual panen tanaman nonpadi, sangat dekat, sehingga tidak perlu ongkos besar.

“Harga mentimun dan kacang tanah di Jakarta lebih mahal ketimbang di Indramayu,” ujarnya. Harga mentimun di Indramayu Rp 300 per kg, sementara di Jakarta, sudah ada penampung yang mau membayar seharga Rp 500 per kg.
Selama setahun, dia bisa menanam mentimun tiga kali. Setiap panen dia bisa mendapatkan hasil senilai Rp 20 juta. “Tetapi modalnya juga besar. Sekali tanam mentimun, saya harus menyediakan uang minimal Rp 15 juta,” ujarnya.
Uang itu untuk biaya membuat membayar ongkos tenaga pembuatan galangan (lahan tanam) sekitar Rp 3 juta, bibit Rp 1 juta, obat-obatan Rp 2 juta, lanjar (tiang tempat dahan merambat) sekitar Rp 3 juta, pupuk Rp 3,6 juta, selebihnya biaya kuli selama 20 hari.

Menyekolahkan Anak

Carman kini merasakan hasil kerja kerasnya di Jakarta. Tiga anaknya yang tinggal di Indramayu sudah bersekolah, satu di bangku SLTA favorit di Indramayu dengan bayaran lumayan tinggi. Satunya lagi di bangku SD. Anak bungsunya belum sekolah.

“Saya ingin menyekolahkan mereka setinggi-tingginya semampu mereka. Sehingga tidak seperti bapaknya,” ujar Carman yang ditinggal mati ayahnya saat masih duduk di kelas I SD.

Meskipun sibuk di sawah, dia tak pernah lupa meluangkan waktu bertemu anak-anaknya. Bahkan, beberapa kali dia mengajak tiga anaknya ke Jakarta, berwisata ke Kebun Binatang Ragunan, Monas, atau ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

Carman berharap bisa bertahan lama menjadi petani di Jakarta. Namun, terbersit kekhawatiran melihat pesatnya pembangunan fisik di Jakarta. Tak jauh dari Rawa Binong, dua perumahan elite baru dibangun. Dia cemas, pengusaha properti Jakarta berkocek tebal melirik areal persawahan Lubang Buaya. “Kalau memang nantinya sawah ini mau dijual pemiliknya, saya mau bilang apa,” ujarnya pasrah.

Sudah barang tentu, padi, mentimun, dan kacang tanah, hasil garapan Carman bakal kalah bersaing dengan cakar-cakar beton bangunan tempat tinggal, perkantoran, dan pusat perbelanjaan. [SP/Yuliantino Situmorang]

sumber : suarapembaruan.com

KFC Delivery Service: call 14022

Posted in Cuisine on September 22, 2008 by judyoplasma

saat ini KFC indonesia telah menyediakan hotline 24 jam

call 14022

love KFC

Hati-hati Jalan Macet.. Ada 7 Demo Hari ini

Posted in Kota jakarta on September 22, 2008 by judyoplasma

Hari pertama minggu ini, sejumlah titik di wilayah Jakarta akan diwarnai 7 unjuk rasa. Di beberapa kawasan demonstran, kemacetan kembali akan menjadi teman setia warga Jakarta.

Demikian informasi yang dihimpun dari Traffic Management Center (TMC) Polda Metro Jaya, Senin (22/09/2008).

Kelompok unjuk rasa pertama akan beraksi di Depan Mabes Polri dan Istana Negara pukul 09.00 WIB.

Demonstran berikutnya, mulai pukul 10.00 WIB, akan menyambangi beberapa tempat dari Kantor KPK, Mahkamah Agung, Depdagri dan berakhir di depan Istana Negara.

Gedung DPR kembali menjadi tempat favorit pengunjuk rasa. Pukul 10.00 WIB gedung wakil rakyat tersebut akan didatangi oleh aliansi masyarakat.

Jam 10.00 WIB, Istana Negara akan kembali didatangi oleh kelompok masyarakat yang berbeda. Aksi mereka akan dilanjutkan menuju Kejaksaan Agung dan berhenti Kantor Pusat PLN.

Kantor Depdagri di Jl Merdeka Utara juga akan kedatangan pengunjuk rasa dari kelompok masyarakat yang berbeda.

Masih di waktu yang sama, giliran Kantor Departemen Kelautan dan Perikanan yang langsung dilanjutkan ke Kantor PT Pusaka Benjina Resource di Wisma 99 Jl Iskandar Syah, Jakarta Selatan yang menjadi tujuan aksi.

Demonstran yang terakhir akan menggelar aksi unjuk rasa mereka di Kantor Mahkamah Agung pada pukul 13.00 WIB.

Hanya saja, tidak disebutkan jumlah massa serta tuntutan yang akan mereka bawa dalam aksi kali ini.

( sumber : detik..com)

Sejarah Kota Jakarta

Posted in Kota jakarta on September 22, 2008 by judyoplasma

Jakarta bermula dari sebuah bandar kecil di muara Sungai Ciliwung sekitar 500 tahun silam. Selama berabad-abad kemudian kota bandar ini berkembang menjadi pusat perdagangan internasional yang ramai. Pengetahuan awal mengenai Jakarta terkumpul sedikit melalui berbagai prasasti yang ditemukan di kawasan bandar tersebut. Keterangan mengenai kota Jakarta sampai dengan awal kedatangan para penjelajah Eropa dapat dikatakan sangat sedikit.

Laporan para penulis Eropa abad ke-16 menyebutkan sebuah kota bernama Kalapa, yang tampaknya menjadi bandar utama bagi sebuah kerajaan Hindu bernama Sunda, beribukota Pajajaran, terletak sekitar 40 kilometer di pedalaman, dekat dengan kota Bogor sekarang. Bangsa Portugis merupakan rombongan besar orang-orang Eropa pertama yang datang ke bandar Kalapa. Kota ini kemudian diserang oleh seorang muda usia, bernama Fatahillah, dari sebuah kerajaan yang berdekatan dengan Kalapa. Fatahillah mengubah nama Sunda Kalapa menjadi Jayakarta pada 22 Juni 1527. Tanggal inilah yang kini diperingati sebagai hari lahir kota Jakarta. Orang-orang Belanda datang pada akhir abad ke-16 dan kemudian menguasai Jayakarta.

Nama Jayakarta diganti menjadi Batavia. Keadaan alam Batavia yang berawa-rawa mirip dengan negeri Belanda, tanah air mereka. Mereka pun membangun kanal-kanal untuk melindungi Batavia dari ancaman banjir. Kegiatan pemerintahan kota dipusatkan di sekitar lapangan yang terletak sekitar 500 meter dari bandar. Mereka membangun balai kota yang anggun, yang merupakan kedudukan pusat pemerintahan kota Batavia. Lama-kelamaan kota Batavia berkembang ke arah selatan. Pertumbuhan yang pesat mengakibatkan keadaan lilngkungan cepat rusak, sehingga memaksa penguasa Belanda memindahkan pusat kegiatan pemerintahan ke kawasan yang lebih tinggi letaknya. Wilayah ini dinamakan Weltevreden. Semangat nasionalisme Indonesia di canangkan oleh para mahasiswa di Batavia pada awal abad ke-20.

Sebuah keputusan bersejarah yang dicetuskan pada tahun 1928 yaitu itu Sumpah Pemuda berisi tiga buah butir pernyataan , yaitu bertanah air satu, berbangsa satu, dan menjunjung bahasa persatuan : Indonesia. Selama masa pendudukan Jepang (1942-1945), nama Batavia diubah lagi menjadi Jakarta. Pada tanggal 17 Agustus 1945 Ir. Soekarno membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Jakarta dan Sang Saka Merah Putih untuk pertama kalinya dikibarkan. Kedaulatan Indonesia secara resmi diakui pada tahun 1949. Pada saat itu juga Indonesia menjadi anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Pada tahun 1966, Jakarta memperoleh nama resmi Ibukota Republik Indonesia. Hal ini mendorong laju pembangunan gedung-gedung perkantoran pemerintah dan kedutaan negara sahabat. Perkembangan yang cepat memerlukan sebuah rencana induk untuk mengatur pertumbuhan kota Jakarta. Sejak tahun 1966, Jakarta berkembang dengan mantap menjadi sebuah metropolitan modern. Kekayaan budaya berikut pertumbuhannya yang dinamis merupakan sumbangan penting bagi Jakarta menjadi salah satu metropolitan terkemuka pada abad ke-21.

Abad ke-14 bernama Sunda Kelapa sebagai pelabuhan Kerajaan Pajajaran.

22 Juni 1527 oleh Fatahilah, diganti nama menjadi Jayakarta (tanggal tersebut ditetapkan sebagai hari jadi kota Jakarta keputusan DPR kota sementara No. 6/D/K/1956).

4 Maret 1621 oleh Belanda untuk pertama kali bentuk pemerintah kota bernama Stad Batavia.

1 April 1905 berubah nama menjadi ‘Gemeente Batavia’.

8 Januari 1935 berubah nama menjadi Stad Gemeente Batavia.

8 Agustus 1942 oleh Jepang diubah namanya menjadi Jakarta Toko Betsu Shi.

September 1945 pemerintah kota Jakarta diberi nama Pemerintah Nasional Kota Jakarta.

20 Februari 1950 dalam masa Pemerintahan. Pre Federal berubah nama menjadi Stad Gemeente Batavia.

24 Maret 1950 diganti menjadi Kota Praj’a Jakarta.

18 Januari 1958 kedudukan Jakarta sebagai Daerah swatantra dinamakan Kota Praja Djakarta Raya.

Tahun 1961 dengan PP No. 2 tahun 1961 jo UU No. 2 PNPS 1961 dibentuk Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya.

31 Agustus 1964 dengan UU No. 10 tahun 1964 dinyatakan Daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya tetap sebagai Ibukota Negara Republik Indonesia dengan nama Jakarta.

Tahun1999, melalaui uu no 34 tahun 1999 tentang pemerintah provinsi daerah khusus ibukota negara republik Indonesia Jakarta, sebutan pemerintah daerah berubah menjadi pemerintah provinsi dki Jakarta, dengan otoniminya tetap berada ditingkat provinsi dan bukan pada wilyah kota, selain itu wiolyah dki Jakarta dibagi menjadi 6 ( 5 wilayah kotamadya dan satu kabupaten administrative kepulauan seribu)

Sepatu Ramah Lingkugan!

Posted in Clothing on September 20, 2008 by judyoplasma

Adidas baru baru ini mengeluarkan sepatu ramah Lingkungan < bukan karena terbuat dari daun atau kertas
tapi sepatu ini menggunakan bahan daur ulang. Warna dari sepatu ini menurutku seperti sayuran ( apa karena temanya eco friendly ya, jd warnanya kayak kentang hehehe )

Sepatu ini bisa di dapatkan di adidas terdekat seharga 140 USD ( kira kira kita bs dapet berapa kentang yaaaa )

kira2 sepatu ini masuk jakarta ga yaa??
we hope so

Jakarta di Mata Dunia

Posted in Kota jakarta on September 20, 2008 by judyoplasma

“Jakarta dimata orang asing”
::: informasi ini baru saja saya dapatkan dari milis, semoga bisa menjadi renungan buat kita semua untuk membangun hidup yang lebih baik, dari sudut pandang kita sendiri… ::::

Jakarta: In Need of Improvements

Andre Vitchek
Worldpress.org contributing editor
July 26, 2007

(taken from kaskus.us dgn judul yg sama)

Today, high-rises dot the skyline, hundreds of thousands of vehicles belch fumes on congested traffic arteries and super-malls have become the cultural centers of gravity in Jakarta, the fourth largest city in the world. In between towering super-structures, humble kampongs house the majority of the city dwellers, who often have no access to basic sanitation, running water or waste management.
Pada saat ini, gedung pencakar langit, jalanan macet dipadati oleh ratusan ribu kendaraan, dan mal-mal raksasa telah menjadi pusat kebudayaan Jakarta , yang notabene merupakan kota terbesar ke-4 di dunia. Terjepit diantara gedung tinggi, terhampar perkampungan dimana bermukim sebagian besar penduduk Jakarta yang tidak memiliki akses sanitasi dasar, air bersih atau pengelolaan limbah.

While almost all major capitals in the Southeast Asian region are investing heavily in public transportation, parks, playgrounds, sidewalks and cultural institutions like museums, concert halls and convention centers, Jakarta remains brutally and determinately ‘pro-market’ profit-driven and openly indifferent to the plight of a majority of its citizens who are poor.
Disaat hampir semua kota-kota utama lain di Asia Tenggara menginvestasikan dana besar-besaran untuk tr ansportasi publik, taman kota, taman bermain, trotoar besar, dan lembaga kebudayaan seperti museum, gedung konser, dan pusat pameran, Jakarta tumbuh secara BRUTAL dengan berpihak hanya pada PEMILIK MODAL dan TIDAK PEDULI akan nasib mayoritas penduduknya yang MISKIN.

Most Jakartans have never left Indonesia, so they cannot compare their capital with Kuala Lumpur or Singapore; with Hanoi or Bangkok . Comparative statistics and reports hardly make it into the local media. Despite the fact that the Indonesian capital is for many foreign visitors a ‘hell on earth,’ the local media describes Jakarta as “modern,” “cosmopolitan,” and “a sprawling metropolis.”
Kebanyakan penduduk Jakarta belum pernah pergi ke luar negeri, sehingga mereka tidak dapat membandingkan kota Jakarta dengan Kuala Lumpur atau Singapura, Hanoi atau Bangkok . Liputan dan statistik pembanding juga jarang ditampilkan oleh media massa setempat. Meskipun bagi para wisatawan asing Jakarta merupakan NERAKA DUNIA, media massa setempat menggambarkan Jakarta sebagai kota “modern”, “kosmopolitan” , dan “metropolis” .

Newcomers are often puzzled by Jakarta’s lack of public amenities. Bangkok, not exactly known as a user-friendly city, still has several beautiful parks. Even cash-strapped Port Moresby, capital of Papua New Guinea, boasts wide promenades, playgrounds, long stretches of beach and sea walks. Singapore and Kuala Lumpur compete with each other in building wide sidewalks, green areas as well as cultural establishments. Manila, another city without a glowing reputation for its public amenities, has succeeded in constructing an impressive sea promenade dotted with countless cafes and entertainment venues while preserving its World Heritage Site at In tramuros. Hanoi repaved its wide sidewalks and turned a park around Huan-Kiem Lake into an open-air sculpture museum.
Para pendatang/wisatawan seringkali terheran-heran dengan kondisi Jakarta yang tidak memiliki taman rekreasi publik. Bangkok, yang tidak dikenal sebagai kota yang ramah publik, masih memiliki beberapa taman yang menawan. Bahkan, Port Moresby, ibukota Papua Nugini, yang miskin, terkenal akan taman bermain yang besar, pantai dan jalan setapak di pinggir laut yang indah.

But in Jakarta, there is a fee for everything. Many green spaces have been converted to golf courses for the exclusive use of the rich. The approximately one square kilometer of Monas seems to be the only real public area in a city of more than 10 million. Despite being a maritime city, Jakarta has been separated from the sea, with the only focal point being Ancol, with a tiny, mostly decrepit walkway along the dirty beach dotted with private businesses.
Di Jakarta kita perlu biaya untuk segala sesuatu. Banyak lahan hijau diubah menjadi lapangan golf demi kepentingan orang kaya. Kawasan Monas seluas kurang lebih 1 km persegi bisa jadi merupakan satu-satunya kawasan publik di kota berpenduduk lebih dari 10 juta ini. Meskipun menyandang predikat kota maritim, Jakarta telah terpisah dari laut dengan Ancol menjadi satu-satunya lokasi rekreasi yang sebenarnya hanya berupa pantai kotor.

Even to take a walk in Ancol, a family of four has to spend approximately $4.50 (40,000 Indonesian Rupiahs) in entrance fees, something unthinkable anywhere else in the world. The few tiny public parks which survived privatization are in desperate condition and mostly unsafe to use.
Bahkan kalau mau jalan-jalan ke Ancol, satu keluarga dengan 4 orang anggota keluarga harus mengeluarkan uang Rp 40.000 untuk tiket masuk, satu hal yang tak masuk akal di belahan lain dunia. Beberapa taman publik kecil kondisinya menyedihkan dan tidak aman.

There are no sidewalks in the entire city, if one applies international standards to the word “sidewalk.” Almost anywhere in the world (with the striking exception of some cities in the United State, like Houston and Los Angeles) the cities themselves belong to pedestrians. Cars are increasingly discouraged from travelling in the city centres. Wide sidewalks are understood to be the most ecological, healthy and efficient forms of short-distance public transportation in areas with high concentrations of people.
Sama sekali tidak ditemui tempat pejalan kaki di seluruh penjuru kota (tempat pejalan kaki yang dimaksud adalah sesuai dengan standar “internasional” ). Nyaris seluruh kota-kota di dunia (kecuali beberapa kota di AS, seperti Houston dan LA) ramah terhadap pejalan kaki. Mobil seringkali tidak diperkenankan berkeliaran di pusat kota . Trotoar yang lebar merupakan sarana transportasi publik jarak pendek yang paling efisien, sehat, dan ramah lingkungan di daerah yang padat penduduk.

In Jakarta, there are hardly any benches for people to sit and relax, and no free drinking water fountains or public toilets. It is these small, but important, ‘details’ that are symbols of urban life anywhere else in the world.
Di Jakarta, nyaris tidak dijumpai bangku untuk duduk dan rileks, tidak ada keran air minum gratis atau toilet umum. Ini memang remeh, tapi sangat penting, merupakan suatu detil yang menjadi simbol kehidupan perkotaan di bagian lain dunia.

Most world cities, including those in the region, want to be visited and remembered for their culture. Singapore is managing to change its ’shop-till-you- drop’ image to that of the centre of Southeast Asian arts. The monumental Esplanade Theatre has reshaped the skyline, offering first-rate international concerts in classical music, opera, ballet, and also featuring performances from some of the leading contemporary artists from the region. Many performances are subsidized and are either free or cheap, relative to the high incomes in the city-state.
Sebagian besar kota-kota dunia, ingin dikunjungi dan dikenang akan kebudayaannya. Singapura sedang berupaya mengubah citra kota belanjanya menjadi jantung kesenian Asia Tenggara. Esplanade Theatre yang monumental telah mengubah wajah kota Singapura, dimana ia menawarkan konser musik klasik, balet, dan opera internasional kelas satu, disamping pertunjukan artis kontemporer kawasan. Banyak pertunjukan yang disubsidi dan seringkali gratis atau murah, bila dibandingkan dengan pendapatan warga kota yang relatif tinggi.

Kuala Lumpur spent $100 million on its philharmonic concert hall, which is located right under the Petronas Towers , among the tallest buildings in the world. This impressive and prestigious concert hall hosts local orches tr a companies as well top international performers. The city is currently spending further millions to refurbish its museums and galleries, from the National Museum to the National Art Gallery .

Kuala Lumpur menghabiskan $100 juta untuk membangun balai konser philharmonic yang terletak persis dibawah Pe tr onas Tower , salah satu gedung tertinggi di dunia. Balai konser prestisius dan impresif ini mempertunjukkan grup orkes tr a lokal dan internasional. Kuala Lumpur juga sedang menginvestasikan beberapa juta dolar untuk memugar museum dan galeri, dari Museum Nasional hingga Galeri Seni Nasional.

Hanoi is proud of its culture and arts, which are promoted as its major at tr action millions of visitors flock into the city to visit countless galleries stocked with canvases, which can be easily described as some of the best in Southeast Asia. Its beautifully restored Opera House regularly offers Western and Asian music treats.
Hanoi bangga akan budaya dan seninya, yang dipromosikan guna menarik jutaan turis untuk mengunjungi galeri-galeri lukisan yang tak terhitung jumlahnya, dimana lukisan tersebut merupakan salah satu yang terbaik di Asia Tenggara. Gedung Operanya yang dipugar secara reguler mempertunjukkan pagelaran musik Asia dan Barat.

Bangkok’s colossal temples and palaces coexist with ex tr emely cosmopolitan fare international theater and film festivals, countless performances, jazz clubs with local and foreign artists on the bill, as well as authentic culinary delights from all corners of the world. When it comes to music, live performances and nightlife, there is no city in Southeast Asia as vibrant as Manila .

Candi-candi dan istana kolosal di Bangkok eksis berdampingan dengan teater dan festival film internasional, klub jazz yang tak terhitung jumlahnya, dan juga pilihan kuliner otentik dari segala penjuru dunia. Kalau bicara musik dan kehidupan malam, tak ada kota di Asia Tenggara yang semeriah Manila.

Now back to Jakarta. Those who have ever visited the city’s ‘public libraries’ or National Archives building will know the difference. No wonder; in Indonesia education, culture and arts are not considered to be ‘profitable’ (with the exception of pop music), and are therefore made absolutely irrelevant. The country spends the third lowest amount in the world on education (according to The Economist, only1.2 percent of its GDP) after Equatorial Guinea and Ecuador (there the situation is now rapidly improving with the new progressive government).
Nah, sekarang balik ke Jakarta . Siapapun yang bernah berkunjung ke “perpustakaan umum” atau gedung Arsip Nasional pasti tahu bedanya. Tak heran, dalam pendidikan Indonesia, budaya dan seni tidak dianggap “menguntungkan” (kecuali musik pop), sehingga menjadi tidak relevan. Indonesia merupakan negara dengan ANGGARAN PENDIDIKAN TERENDAH nomor 3 di dunia – ya ampyun….(pent.) – (menurut The Economist, hanya 1,2% dari PDB) setelah Guyana Khatulistiwa dan Ekuador (di kedua negara tersebut keadaan sekarang berkembang cepat berkat pemerintahan baru yang progresif)

Museums in Jakarta are in appalling condition, offering absolutely no important international exhibitions. They look like they fell on the city from a different era and no wonder the Dutch built almost all of them. Not only are their collections poorly kept, but they lack elements of modernity there are no elegant cafes, museum shops, bookstores or even public archives. It appears that the individuals running them are without vision and creativity. However, even if they did have inspired ideas, there would be no funding to carry them out.
Museum di Jakarta berada dalam kondisi memprihatinkan, sama sekali tidak menawarkan eksibisi internasional. Museum tersebut terlihat seperti berasal dari zaman baheula dan tak heran kalau Belanda yang membangun kesemuanya. Tidak hanya koleksinya yang tak terawat, tapi juga ketiadaan unsur-unsur modern seperti kafe, toko cinderamata, toko buku atau perpustakaan publik. Kelihatannya manajemen museum tidak punya visi atau kreativitas. Bahkan, meskipun mereka punya visi atau kreativitas, pasti akan terkendala dengan ketiadaan dana.

It seems that Jakarta has no city planners, only private developers that have no respect for the majority of its inhabitants who are poor (the great majority, no matter what the understated and manipulated government statistics say). The city abandoned itself to the private sector, which now controls almost everything, from residential housing to what were once public areas.
Sepertinya Jakarta tidak punya perencana kota, hanya ada pengembang swasta yang tidak punya respek atau kepedulian akan mayoritas penduduk yang miskin (mayoritas besar, tak peduli apa yang dikatakan oleh data statistik yang seringkali DIMANIPULIR pemerintah). Kota Jakarta praktis menyerahkan dirinya ke sektor swasta, yang kini nyaris mengendalikan semua hal, mulai dari perumahan hingga ke area publik.

While Singapore decades ago, and Kuala Lumpur recently, managed to fully eradicate poor, unsanitary and depressing kampongs from their urban areas, Jakarta is unable or unwilling to offer its citizens subsidized, affordable housing equipped with running water, electricity, a sewage system, wastewater tr eatment facilities, playgrounds, parks, sidewalks and a mass public transportation system.
Sedangkan beberapa dekade yang lalu di Singapura, dan baru-baru ini di Kualalumpur, mereka berhasil menghilangkan total perkampungan kumuh dari wilayah kota, namun Jakarta tidak mampu atau tidak mau memberikan warganya perumahan bersubsidi dengan harga terjangkau yang dilengkapi dengan air ledeng, lis tr ik, sistem pembuangan limbah, taman bermain, tr otoar dan sistem tr ansportasi massal.

Rich Singapore aside, Kuala Lumpur with only 2 million inhabitants boasts one metroline (Putra Line), one monorail, several efficient Star LRT lines, suburban tr ain links and high-speed rail system connecting the city with its new capital Putrajaya. The “Rapid” system counts on hundreds of modern, clean and air-conditioned buses. Transit is subsidized; a bus ticket on “Rapid” costs only $.60 (2 Malaysian Ringgits) for unlimited day use on the same line. Heavily discounted daily and monthly passes are also available.
Selain Singapura, Kualalumpur dengan berpenduduk hanya 2 juta jiwa memiliki satu jalur Me tr o (Pu tr a Line), satu monorail, beberapa jalur LRT Star yang efisien, dan jaringan keretaapi kecepatan tinggi yang menghubungkan kota dengan ibu kota baru Pu tr ajaya. Sistem “RApid” memiliki ratusan bus modern, bersih, dan ber-AC. Tarifnya disubsidi, tiket bus Rapid hanya sekitar 2 Ringgit (kuranglebih Rp 4600) untuk penggunaan tak terbatas sepanjang hari di jalur yang sama. Tiket abonemen bulanan dan harian yang sangat murah juga tersedia.

Bangkok contracted German firm Siemens to build two long “Sky Train” lines and one me tr o line. It is also utilizing its river and channels as both public transportation and as a tourist attraction. Despite this enormous progress, the Bangkok city administration claims that it is building an additional 50 miles (80 kilometers) of tracks for these systems in order to convince citizens to leave their cars at home and use public transportation. Polluting pre-historic buses are being banned from Hanoi, Singapore , Kuala Lumpur and gradually from Bangkok. Jakarta, thanks to corruption and phlegmatic officials, is in its own league even in this field.
Bangkok menunjuk kontraktor Siemens dari Jerman untuk membangun 2 jalur panjang “Sky Train” dan satu jalur me tr o. Bangkok juga memanfaatkan sungai dan kanal sebagai tr ansportasi publik dan objek wisata. Pemerintahan kota Bangkok juga mengklaim bahwa mereka sedang membangun jalur tambahan sepanjang 80 km untuk sistem tersebut guna meyakinkan penduduk untuk meninggalkan mobil mereka di rumah dan memanfaatkan tr ansportasi umum. Bus-bus kuno yang berpolusi sudah sepenuhnya dilarang beroperasi di Hanoi , Singapura, Kualalumpur, dan Bangkok. Jakarta ? Berkat korupsi dan pejabat pemerintahan yang tak kompeten, Jakarta tenggelam dalam kondisi yang berkebalikan dengan kota-kota tersebut.

Mercer Human Resource Consulting, in its reports covering quality of life, places Jakarta repeatedly on the level of poor African and South Asian cities, below metropolises like Nairobi and Medellin .
Mercer Human Resource Consulting, dalam laporannya tentang kualitas hidup, menempatkan Jakarta di posisi setara dengan kota-kota miskin di Afrika dan Asia Selatan, bahkan dibawah kota Nairobi dan Medellin

Considering that it is in the league with some of the poorest capitals of the world, Jakarta is not cheap. According to the Mercer Human Resource Consulting 2006 Survey, Jakarta ranked as the 48th most expensive city in the world for expatriate employees, well above Berlin (72nd), Melbourne (74th) and Washington D.C. (83rd). And if it is expensive for expa tr iates, how is it for local people with a GDP per capita below $1,000?
Walaupun Jakarta menjadi salah satu ibukota terburuk di dunia, hidup disana tidaklah murah.Menurut Survey Mercer Human Resource Consulting tahun 2006, Jakarta menduduki peringkat 48 kota termahal di dunia untuk ekspa tr iat, jauh diatas Berlin (peringkat 72), Melbourne (74) dan Washington DC (83). Nah, kalau untuk ekspa tr iat saja mahal, apalagi buat penduduk lokal yang pendapatan perkapita DIBAWAH $1000??

Curiously, Jakartans are silent. They have become inured to appalling air quality just as they have gotten used to the sight of children begging, even selling themselves at the major intersections; to entire communities living under elevated highways and in slums on the shores of canals turned into toxic waste dumps; to the hours-long commutes; to floods and rats.
Anehnya, orang Jakarta diam seribu bahasa. Mereka pasrah akan kualitas udara yang jelek, terbiasa dengan pemandangan pengemis di perempatan jalan, dengan kampung kumuh di bawah jalan layang dan di pinggir sungai yang kotor dan penuh limbah beracun, dengan kemacetan berjam-jam, dengan banjir dan tikus.

But if there is to be any hope, the truth has to eventually be told, and the sooner the better. Only a realistic and brutal diagnosis can lead to treatment and a cure. As painful as the truth can be, it is always better than self-deceptions and lies. Jakarta has fallen decades behind capitals in the neighbouring countries in aesthetics, housing, urban planning, standard of living, quality of life, health, education, culture, transportation, food quality and hygiene. It has to swallow its pride and learn from Kuala Lumpur, Singapore, Brisbane and even in some instances from its poorer neighbours like Port Moresby, Manila and Hanoi.
Kalau saja ada sedikit harapan, kebenaran pasti akan terucap, dan semakin cepat semakin baik. Hanya diagnosis kejam dan realistis yang bisa mengarah pada obat. Betapapun pahitnya kebenaran, tetap saja lebih baik ketimbang dusta dan penipuan. Jakarta telah tertinggal jauh dibelakang ibukota lain negara tetangga dalam hal estetika, pemukiman, kebudayaan, tr ansportasi, dan kualitas dan higiene makanan. Sekarang Jakarta telah kehilangan kebanggaan dan mesti belajar dari Kualalumpur, Singapura, Brisbane, dan bahkan dalam beberapa hal dari tetangganya yang lebih miskin seperti Port Moresby, Manila, dan Hanoi.

Comparative statistics have to be transparent and widely available. Citizens have to learn how to ask questions again, and how to demand answers and accountability. Only if they understand to what depths their city has sunk can there be any hope of change. “We have to watch out,” said a concerned Malaysian filmmaker during New Year’s Eve celebrations in Kuala Lumpur. “Malaysia suddenly has too many problems. If we are not careful, Kuala Lumpur could end up in 20 or 30 years like Jakarta!”
Data statistik harus transparan dan tersedia luas. Warga harus belajar bertanya dan bagaimana untuk memperoleh jawaban dan akuntabilitas. Hanya kalau mereka memahami seberapa dalamnya kota mereka telah terperosok, maka barulah ada harapan. “Kita harus berhati-hati” kata produser film Malaysia dalam perayaan tahun baru di Kualalumpur. ” Malaysia punya banyak masalah. Kalau kita tidak hati-hati, dalam 20-30 tahun Kualalumpur akan bernasib sama seperti Jakarta !”

Could this statement be reversed? Can Jakarta find the strength and solidarity to mobilize in time catch up with Kuala Lumpur? Can decency overcome greed? Can corruption be eradicated and replaced by creativity? Can private villas shrink in size and green spaces, public housing, playgrounds, libraries, schools and hospitals expand?
Dapatkah pernyataan ini dibalik? Mampukah Jakarta menemukan kekuatan dan solidaritas untuk mobilisasi sehingga dapat menyaingi Kualalumpur? Mampukah kecukupan mengatasi keserakahan? Dapatkah korupsi diberantas dan diganti dengan kreatifitas? Akankah ukuran vila pribadi mengecil, dan kawasan hijau, perumahan publik, taman bermain, perpustakaan, sekolah dan rumah sakit berkembang pesat?

An outsider like me can observe, tell the story and ask questions. Only the people of Jakarta can offer the answers and solutions.
Orang luar seperti saya hanya dapat mengamati, bercerita, dan bertanya. Dan hanya masyarakat Jakarta yang punya jawaban dan solusinya

Domino Pizza Kini Hadir di Jakarta

Posted in Cuisine on September 20, 2008 by judyoplasma

Domino’s Pizza, sebuah perusahaan yang telah mendapatkan pengakuan sebagai ahli dalam hal layanan antar pizza di dunia, hari ini merayakan pembukaan gerai pertamanya di Indonesia.

Gerai perdana ini berlokasi di wilayah Pondok Indah, Jakarta, tepatnya di Plaza Pondok Indah 6, bersebelahan dengan pasar swalayan Ranch Market dan akan beroperasi sebagai gerai layanan antar dan takeaway.

“Kami sangat antusias menyambut pembukaan gerai pertama Domino’s Pizza di Indonesia,” seru Anthony Cottan, Direktur Divisi Food & Beverage PT Mitra Adiperkasa Tbk, yang merupakan pemegang waralaba Domino’s Pizza untuk Indonesia.

“Untuk merayakan pembukaan gerai pertama ini, kami memberikan sebuah penawaran khusus yang kami sebut 30-30-30, yaitu potongan harga 30% untuk seluruh pembelian pizza, berlaku selama 30 hari dan dengan jaminan waktu antaran yang hanya 30 menit!”

Lanjutnya lagi, “Penawaran ini dibuat sedemikian rupa agar para pelanggan dapat dengan mudah juga menghafal nomor telepon gerai kami yaitu 766-30-30, sekaligus juga menegaskan keahlian Domino’s Pizza dalam hal layanan antar pizza, yang merupakan ciri khas bisnis kami.”

Perayaan pembukaan gerai perdana ini berlangsung mulai pukul 2 siang dengan acara antara lain pengguntingan pita tanda dibukanya toko pertama, yang akan diikuti dengan prosesi simbolis dimulainya kegiatan operasional Domino’s Pizza di Indonesia, termasuk dipanggangnya pizza pertama, penerimaan serta pengantaran pesanan pizza pertama. Tamu-tamu kehormatan yang akan hadir diantaranya adalah perwakilan dari kedutaan besar Amerika Serikat di Jakarta dan Mr. Steven Pizziol, Vice President – International Domino’s Pizza Asia Pacific Region.

Domino’s Pizza Pondok Indah buka setiap hari untuk layanan antar atau takeaway mulai pukul 11.00 siang sampai pukul 24.00 (hari Minggu sampai Kamis) dan pukul 11.00 siang sampa pukul 01.00 dini hari (hari Jumat dan Sabtu). Pemesanan dapat dilakukan dengan menelepon 766-30-30.

Tentang Domino’s Pizza®
Didirikan pada 1960, Domino’s Pizza telah mendapat pengakuan sebagai pemimpin jasa layanan antar pizza di dunia. Domino’s terdaftar di Bursa Efek New York (NYSE) menggunakan kode DPZ. Melalui sistem yang sebagian besar terdiri dari gerai waralaba, Domino’s mengelola 8.671 gerai waralaba dan gerai milik perusahaan pusat di Amerika Serikat, serta memiliki pasar di 60 negara lainnya di seluruh dunia. Merek dagang Domino’s Pizza, yang meraih penghargaan Megabrand oleh majalah Advertising Age, memiliki penjualan ritel global lebih dari $5.4 milyar pada tahun 2007, terbagi atas $3.2 milyar penjualan di Amerika Serikat dan $2.2 milyar untuk penjualan internasional. Pada kwartal kedua di tahun 2008, Domino’ Pizza mencapai penjualan ritel global sebesar $1.3 milyar, yang terbagi atas kurang lebih $717 juta secara domestik dan $589 di pasar internasionalnya. Domino’s Pizza mendapat penghargaan ‘Chain of the Year’ oleh majalah Pizza Today, sebuah media terkemuka untuk industri pizza di Amerika Serikat. Para pelanggan dapat memesan pizza mereka secara on-line dalam bahasa Inggris maupun Spanyol dengan mengunjungi http://www.dominos.com, atau dari telepon genggam dengan teknologi web melalui mobile.dominos.com. Untuk informasi lebih lanjut mengenai perusahaan pusat Domino’s Pizza, dan berbagai informasi dapat diperoleh di situs http://www.dominos.com.

Tentang PT Mitra Adiperkasa Tbk
Terdaftar di Bursa Efek Indonesia, MAP merupakan perusahaan ritel terdepan untuk Lifestyle dan Food & Beverage di Indonesia yang mengoperasikan hampir 700 toko di 22 kota besar. Konsep ritel yang dikelola perusahaan di antaranya adalah Starbucks Coffee, Burger King, Cold Stone Creamery, SEIBU, SOGO, Debenhams, Giorgio Armani, Emporio Armani, Zara, Marks & Spencer, Planet Sports, Sports Station, The Athlete’s Foot, Reebok, Kidz Station, Oshkosh B’ Gosh dan masih banyak lagi. MAP terpilih sebagai “Best Managed Company (Small Cap)” oleh AsiaMoney pada tahun 2005 dan FinanceAsia pada tahun 2007. Informasi lebih lengkap tentang MAP dapat diperoleh di http://www.map-indonesia.com

Bubur Ayam enak di Jakarta !

Posted in Cuisine on September 19, 2008 by judyoplasma

Semua orang pasti tau bubur ayam , makanan dari masi yang selalu di makan pagi2 setelah anda berolahraga… Namun pernahkan anda membayangkan bahwa di jakarta banyak sekali bubur yg enak enak dan mempunyai ciri khas yang harus anda coba.. WAJIB!!!

berikut adalah bubur ayam yang kami rekomendasikan :
a. Bubur Ayam Cikini, depan KFC (malam)
b. Bubur Ayam Hotel Indonesia (malam)
c. Bubur Ayam Jl. Tanjung, Menteng
d. Bubur Ayam Cideng, Ps. Cideng Tanah Abang (malam)
e. Bubur Ayam Sukabumi, Tebet
f. Bubur Ayam Senayan: yg enak yg di depan Istora, mobil Ijo (Minggu pagi)
g. Bubur Ayam Sukabumi, Jl. Radio Dalam, pas tikungan
h. Bubur Ayam depan RS Pondok Indah (pagi)
i. Bubur Ayam Sawangan, depan Polsek Sawangan, Cinere (pagi)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.