Archive for September, 2008

MI ITem ? Siapa takutttt…

Posted in Cuisine on September 30, 2008 by judyoplasma

Lokasi : Kemang Food Festival
Jalan Kemang Raya 19C
tel : 719 7105

Jakarta – Mi yang satu ini memang beda? melihat tampangnya yang berwarna hitam tak menarik mata, mungkin membuat Anda sudah tak ingin mencicipinya. Eits, tapi jangan salah… cobain dulu rasanya. Dijamin Anda pun bakal ketagihan!

Mungkin inilah pertama kalinya saya mencicipi mi berwarna hitam pekat ini. Sebelumnya memang mi yang biasa saya makan hanyalah berwarna kuning standar. Meskipun dulu juga pernah mencicipi spaghetti yang warnanya hitam pekat persis dengan mi item ini, disalah satu hotel di Jakarta. Jadi ketika mencicipi mi hitam yang berada di salah satu resto di bilangan Kemang ini, saya sudah tak begitu terkejut lagi.

Kok bisa sih warnanya hitam? Menurut sang pelayan yang kebetulan restonya juga bernama sama yaitu ‘Mi Item’, warna hitam mi ini berasal dari tinta cumi. Jadi bukan menggunakan zat pewarna atau sejenisnya, nah inilah dia yang membuat rasa mi menjadi lebih gurih…

Oya, karena terbuat dari tinta cumi yang masih fresh, jadinya tak perlu khawatir gigi yang memakannya menjadi hitam. Karena tinta cumi ini tidak bakal meninggalkan bekas sama sekali…

Di daftar menu ada 6 pilihan racikan mi hitam, yaitu Mi Item Aglio Olio, Mi Item with Fermented Prawn, Rujak Kerupuk Mi Item, I Fu Mi Item, Cwie MieItem, dan Mi Item Goreng Jawa. Hidangan pun disajikan tidak seperti lazimnya restoran lain yang memakai piring atau mangkuk, melainkan dengan kotak segi empat kecil yang juga berwarna hitam.

Jika ingin menyantapnya mi langsung dimakan dari kotak-kotak tersebut dengan menggunakan sumpit. Slurppp… sedap! Tekstur minya benar-benar lentur, kenyal, dan gurih… Untuk melengkapi mi item ini ada pilihan es teh dengan aroma buah, es teh serai, atau banana & frozen Earl Grey. Nah, benar kan? gak usah takut menyantap mi item yang lezat ini!

sumber : detik.com

Harga 20.000 – 25000 IDR ( makanan ) ,
8500-20000 (minuman )

Bakso di Jakartaaaa

Posted in Cuisine on September 26, 2008 by judyoplasma

wah udah lama ga ngepost yaaaaa…

 

oh ya setelah keliling jakarta

mungkin ada beberapa warung bakso yg menurutku cukup enak

1) bakso Ciatt..Cempaka Putih

Gang Kabel Bawah, Rt 04/Rw 07, Cempaka Putih Barat 25, Jakarta Pusat

buka dari jam 10:30-22:00

warung bakso yang sudah ada sejak tahun 1990 ini menurut aku cukup lezat.. … Walaupun jalannya sempit ( maklum gang) dan cuman bisa parkir 6 motor, pengunjungnya banyak bgd ..gak cuman dari sekira cemput, tpi ada juga dri daerah2 lain yang cukup jauh dr cemput

 

soal harga , ga usah khawatir cukup 7000 perak ajah… murah kannn??

2) bakso atom

ada y g pernah denger bakso atom gaaaa??? dulu sih lokasinya di pati unus ( skrg udah ga ada. pindah kemana yaaa))

nah pokoknya di baso atom ini ada beberapa jenis bbakso,, ada bakso keju< bakso sumsum , bakso otak, bakso urat, bakso telor dll

tpi yg paling khas itu bakso jkejunyaa.. wah enak bgddddd.. banyak bgd yg niru bakso kejunya.. tp so far paling enak ya disiniii

3)Mie Lares,
Lokasi : tebet

yg khas mie gorengnya enak… di masak pake anglo.. bumbunya yg enak.. cobaina ajh sendiri

 

4) Bakmi Ahoy

Bakmi Ahoy,
di Belakang apotek Jembatan Dua, sebrang sekolah Nazaret,Jak-Ut
Kalo malem ada di jalan angke, sebelum lampu merah…,
yang jualan mie ayam, bihun ayam, nasi tim ayam, lao chu phan, kwe tiaw ayam.
makanannya Haram.
Katanya sih, …Makanannya enak banget!!! Rasa dagingnya gurih banget, pokoknya selera chinese gitu deh……..Harganya si ga mahal, 1porsi sekitar 10-15rb…

 

 Bakmi Asui,
di Tanjung duren, Jakarta-Barat,
makanannya Tidak tahu.
Katanya sih, …Ada di daerah tanjung duren, tapi cabangnya baru buka di Green Garden, Jakarta-Barat, kurang lebih di seberang pom bensin Green Garden. Bakminya enak banget, agak kenyal, gak lembek, pake daging ayam rebus. Kuah kaldu ayamnya kerasa banget, pake sayurnya sayur fumak. Halal. Walaupun harganya sedikit lbh mahal, tapi gak nyesel deh……

Hijrah ke Jakarta, Jadi PETANI

Posted in Kota jakarta, Profil on September 23, 2008 by judyoplasma


Carman (kiri) bersama tiga pekerjanya, Sutin, Damu, dan Sawan beristirahat sejenak di pinggir sawah garapan mereka di Jl Rawa Binong, Lubang Buaya, Jakarta Timur. Pria asal Indramayu ini sudah menjadi warga Jakarta dan merantau ke Ibukota menjadi petani.

Jakarta masih menjadi magnet warga desa di penjuru Tanah Air. Tak heran, setiap tahun ribuan pendatang baru dari pelosok-pelosok daerah datang ke Ibukota yang kini berpenduduk sekitar 10 juta ini. Mereka mengadu nasib, menjalani kehidupan yang keras, dan terkadang menantang risiko, demi kehidupan lebih baik.

Hal itulah yang dilakukan Carman (35), warga Indra- mayu, Jawa Barat. Impitan ekonomi dan kemiskinan hidup di Indramayu yang memaksanya merantau ke Ibukota. Ketika itu, usianya belum genap 17 tahun. Mimpinya, dia ingin bekerja di salah satu dari ratusan gedung pencakar langit di Jakarta, seperti yang kerap dilihatnya di TV.

Bagi banyak orang desa, termasuk Carman, Jakarta menawarkan mimpi yang menggiurkan. Tapi, mimpi itu belum terwujud sampai sekarang.

Carman, yang hanya mengenyam pendidikan hingga kelas 5 SD itu, bertahun-tahun bergulat mencari sesuap nasi. Berbagai profesi dia tekuni.

Anak petani ini sempat menjadi pedagang buah. Dia juga pernah beberapa tahun bekerja menjadi kuli kontrak di salah satu perusahaan swasta rekanan PLN di Kebayoran, Jakarta Selatan.

“Saya tidak punya ijazah SD, makanya sulit mendapat kerja di sini (Jakarta, Red). Bertahun-tahun saya ikut teman nanam kabel listrik untuk PLN ke perumahan- perumahan,” ujarnya saat ditemui pekan lalu.

Dia menyadari, dengan pendidikan yang rendah, pekerjaan yang mengandalkan otot yang paling mungkin dia lakoni. Selepas itu, dia alih profesi menjadi tukang sayur.

Menjadi Petani

Selama di Jakarta, Carman menetap di Lubang Buaya, Jakarta Timur. Dia menikahi Kasiyati, yang juga berasal dari Indramayu.
Di Lubang Buaya, Carman melihat hamparan sawah di sisi Jalan Rawa Binong, Kelurahan Lubang Buaya, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur.

Jika menelusuri jalan raya dari Jl Raya Pondok Gede menuju Setu atau ke arah Bambu Apus, areal persawahan itu ada di sebelah kiri jalan. Warga setempat menyebutnya Jalan Raya Lubang Buaya-Setu.

Dia sempat terkejut, ternyata di Jakarta masih ada sawah, mirip yang ada di kampung halamannya. Sawah di Lubang Buaya itu tidaklah luas, paling sekitar enam hektare (ha). Bau sawah, tanah, dan tanaman padi di Rawa Binong, mengingatkannya pada Indramayu.

Carman terusik, karena sawah itu tak semuanya ditanami padi. Sebagian lahan terbengkalai tak terurus. Sementara di Indramayu, dia dan warga setempat yang notabene petani penggarap, sangat sulit mencari lahan persawahan.

Makanya ketika bertemu sang pemilik lahan, B Bian, pertengahan tahun 2000, Carman langsung menawarkan diri menggarap lahan terbengkalai itu. Gayung bersambut. Dia mendapat izin menggarap sebagian lahan seluas 7.000 meter persegi.
Di Lubang Buaya, Bian memiliki lahan paling luas, sekitar 3 ha. Selebihnya dimiliki H Ramin, Suin, Misar, masing-masing sekitar 1 ha. Juga ada sawah seluas 2.000 meter persegi milik Ocan. Semuanya warga Betawi asli.

Sebagian sawah itu ada yang digarap sendiri, ada juga yang digarap warga sekitar. Hanya Carman yang datang jauh-jauh dari Indramayu menggarap sawah di Lubang Buaya.

“Memang unik, dia datang dari Indramayu ke Jakarta, malah jadi petani. Tapi dia termasuk ulet. Buktinya sekarang dia mampu menggaji tiga anak buah yang didatangkan dari Indramayu untuk kerja di sawahnya,” ujar Jayadi (58), warga setempat yang menjadi petani penggarap di Lubang Buaya.

Hal senada diungkapkan Misar, petani asli Lubang Buaya. Menurut dia, sistem bertani yang diterapkan Carman bagus. Temasuk dalam pengairannya. Carman bahkan bisa mengalirkan air hanya dari selokan kecil di sisi Jalan Rawa Binong. Konon, air itu mengalir dari kawasan Ujung Aspal, Pondok Gede.

Benar juga, saat petani asli Lubang Buaya berhenti bersawah usai memanen akhir Agustus lalu dan areal sawah kering karena belum datang hujan, Carman masih terus beraktivitas. Sawahnya penuh air. Dia masih menanam, tetapi bukan padi, melainkan mentimun dan kacang tanah.
Carman hanya tersenyum jika disindir jauh-jauh merantau ke Jakarta hanya untuk menjadi petani.

“Ya, namanya usaha. Penghasilannya juga lumayan,” katanya.
Menurut ayah tiga anak ini, ketimbang di Indramayu, bertani di Ibukota banyak kelebihannya. Sewa lahan tidak mahal, dan bisa dibayar sehabis panen dengan sistem bagi hasil. Kalau di Indramayu, sebelum menanam, petani harus membayar secara tunai ke pemilik lahan. Makanya, jika gagal panen, petani penggarap akan rugi besar.
“Kalau di sini, toleransi dari pemilik lahan sangat besar. Kalau panen sedikit, pemilik lahan tidak menuntut banyak,” ujarnya.

Pemilik lahan juga tidak meminta bagian untuk tanaman lain yang ditanam Carman di sela-sela musim tanam padi. “Walaupun begitu, setiap ada hasilnya saya pasti bagi,” ujarnya.
Setiap kali panen, dia bisa menghasilkan tiga ton padi. Biasanya, dari hasil sebanyak itu, Carman memberi enam kuintal padi ke pemilik lahan. Dalam setahun, dia bisa panen dua kali.

Hasil panen tidak dijual di Jakarta, tetapi dibawa ke Indramayu untuk digiling menjadi beras. Sebab, harganya jauh beda. Di Jakarta, gabah kering giling harganya Rp 2.000 per kilogram (kg), sedangkan di Indramayu Rp 3.000/kg. Biasanya dia menyewa truk besar untuk mengangkut seluruh padinya ke Indramayu, dengan ongkos Rp 500.000.
Biasanya, Carman menyisakan delapan karung padi ukuran 50 kg untuk persediaan makan di Jakarta. Selebihnya dijual ke Indramayu.

Biaya produksi sekali musim tanam bisa mencapai Rp 3,5 juta. Jumlah itu untuk gaji tiga pekerjanya selama 20 hari sekitar Rp 40.000 per hari (belum termasuk makan dan rokok harian), bibit setengah kuintal, pupuk empat kuintal, obat-obatan dan ongkos angkut padi ke Indramayu. Setidaknya, sekali panen, Carman bisa membawa pulang uang sekitar Rp 2,5 juta hingga Rp 3 juta.
Keistimewaan lain yang dirasakannya dengan bertani di Jakarta, untuk menjual panen tanaman nonpadi, sangat dekat, sehingga tidak perlu ongkos besar.

“Harga mentimun dan kacang tanah di Jakarta lebih mahal ketimbang di Indramayu,” ujarnya. Harga mentimun di Indramayu Rp 300 per kg, sementara di Jakarta, sudah ada penampung yang mau membayar seharga Rp 500 per kg.
Selama setahun, dia bisa menanam mentimun tiga kali. Setiap panen dia bisa mendapatkan hasil senilai Rp 20 juta. “Tetapi modalnya juga besar. Sekali tanam mentimun, saya harus menyediakan uang minimal Rp 15 juta,” ujarnya.
Uang itu untuk biaya membuat membayar ongkos tenaga pembuatan galangan (lahan tanam) sekitar Rp 3 juta, bibit Rp 1 juta, obat-obatan Rp 2 juta, lanjar (tiang tempat dahan merambat) sekitar Rp 3 juta, pupuk Rp 3,6 juta, selebihnya biaya kuli selama 20 hari.

Menyekolahkan Anak

Carman kini merasakan hasil kerja kerasnya di Jakarta. Tiga anaknya yang tinggal di Indramayu sudah bersekolah, satu di bangku SLTA favorit di Indramayu dengan bayaran lumayan tinggi. Satunya lagi di bangku SD. Anak bungsunya belum sekolah.

“Saya ingin menyekolahkan mereka setinggi-tingginya semampu mereka. Sehingga tidak seperti bapaknya,” ujar Carman yang ditinggal mati ayahnya saat masih duduk di kelas I SD.

Meskipun sibuk di sawah, dia tak pernah lupa meluangkan waktu bertemu anak-anaknya. Bahkan, beberapa kali dia mengajak tiga anaknya ke Jakarta, berwisata ke Kebun Binatang Ragunan, Monas, atau ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

Carman berharap bisa bertahan lama menjadi petani di Jakarta. Namun, terbersit kekhawatiran melihat pesatnya pembangunan fisik di Jakarta. Tak jauh dari Rawa Binong, dua perumahan elite baru dibangun. Dia cemas, pengusaha properti Jakarta berkocek tebal melirik areal persawahan Lubang Buaya. “Kalau memang nantinya sawah ini mau dijual pemiliknya, saya mau bilang apa,” ujarnya pasrah.

Sudah barang tentu, padi, mentimun, dan kacang tanah, hasil garapan Carman bakal kalah bersaing dengan cakar-cakar beton bangunan tempat tinggal, perkantoran, dan pusat perbelanjaan. [SP/Yuliantino Situmorang]

sumber : suarapembaruan.com

KFC Delivery Service: call 14022

Posted in Cuisine on September 22, 2008 by judyoplasma

saat ini KFC indonesia telah menyediakan hotline 24 jam

call 14022

love KFC

Hati-hati Jalan Macet.. Ada 7 Demo Hari ini

Posted in Kota jakarta on September 22, 2008 by judyoplasma

Hari pertama minggu ini, sejumlah titik di wilayah Jakarta akan diwarnai 7 unjuk rasa. Di beberapa kawasan demonstran, kemacetan kembali akan menjadi teman setia warga Jakarta.

Demikian informasi yang dihimpun dari Traffic Management Center (TMC) Polda Metro Jaya, Senin (22/09/2008).

Kelompok unjuk rasa pertama akan beraksi di Depan Mabes Polri dan Istana Negara pukul 09.00 WIB.

Demonstran berikutnya, mulai pukul 10.00 WIB, akan menyambangi beberapa tempat dari Kantor KPK, Mahkamah Agung, Depdagri dan berakhir di depan Istana Negara.

Gedung DPR kembali menjadi tempat favorit pengunjuk rasa. Pukul 10.00 WIB gedung wakil rakyat tersebut akan didatangi oleh aliansi masyarakat.

Jam 10.00 WIB, Istana Negara akan kembali didatangi oleh kelompok masyarakat yang berbeda. Aksi mereka akan dilanjutkan menuju Kejaksaan Agung dan berhenti Kantor Pusat PLN.

Kantor Depdagri di Jl Merdeka Utara juga akan kedatangan pengunjuk rasa dari kelompok masyarakat yang berbeda.

Masih di waktu yang sama, giliran Kantor Departemen Kelautan dan Perikanan yang langsung dilanjutkan ke Kantor PT Pusaka Benjina Resource di Wisma 99 Jl Iskandar Syah, Jakarta Selatan yang menjadi tujuan aksi.

Demonstran yang terakhir akan menggelar aksi unjuk rasa mereka di Kantor Mahkamah Agung pada pukul 13.00 WIB.

Hanya saja, tidak disebutkan jumlah massa serta tuntutan yang akan mereka bawa dalam aksi kali ini.

( sumber : detik..com)

Sejarah Kota Jakarta

Posted in Kota jakarta on September 22, 2008 by judyoplasma

Jakarta bermula dari sebuah bandar kecil di muara Sungai Ciliwung sekitar 500 tahun silam. Selama berabad-abad kemudian kota bandar ini berkembang menjadi pusat perdagangan internasional yang ramai. Pengetahuan awal mengenai Jakarta terkumpul sedikit melalui berbagai prasasti yang ditemukan di kawasan bandar tersebut. Keterangan mengenai kota Jakarta sampai dengan awal kedatangan para penjelajah Eropa dapat dikatakan sangat sedikit.

Laporan para penulis Eropa abad ke-16 menyebutkan sebuah kota bernama Kalapa, yang tampaknya menjadi bandar utama bagi sebuah kerajaan Hindu bernama Sunda, beribukota Pajajaran, terletak sekitar 40 kilometer di pedalaman, dekat dengan kota Bogor sekarang. Bangsa Portugis merupakan rombongan besar orang-orang Eropa pertama yang datang ke bandar Kalapa. Kota ini kemudian diserang oleh seorang muda usia, bernama Fatahillah, dari sebuah kerajaan yang berdekatan dengan Kalapa. Fatahillah mengubah nama Sunda Kalapa menjadi Jayakarta pada 22 Juni 1527. Tanggal inilah yang kini diperingati sebagai hari lahir kota Jakarta. Orang-orang Belanda datang pada akhir abad ke-16 dan kemudian menguasai Jayakarta.

Nama Jayakarta diganti menjadi Batavia. Keadaan alam Batavia yang berawa-rawa mirip dengan negeri Belanda, tanah air mereka. Mereka pun membangun kanal-kanal untuk melindungi Batavia dari ancaman banjir. Kegiatan pemerintahan kota dipusatkan di sekitar lapangan yang terletak sekitar 500 meter dari bandar. Mereka membangun balai kota yang anggun, yang merupakan kedudukan pusat pemerintahan kota Batavia. Lama-kelamaan kota Batavia berkembang ke arah selatan. Pertumbuhan yang pesat mengakibatkan keadaan lilngkungan cepat rusak, sehingga memaksa penguasa Belanda memindahkan pusat kegiatan pemerintahan ke kawasan yang lebih tinggi letaknya. Wilayah ini dinamakan Weltevreden. Semangat nasionalisme Indonesia di canangkan oleh para mahasiswa di Batavia pada awal abad ke-20.

Sebuah keputusan bersejarah yang dicetuskan pada tahun 1928 yaitu itu Sumpah Pemuda berisi tiga buah butir pernyataan , yaitu bertanah air satu, berbangsa satu, dan menjunjung bahasa persatuan : Indonesia. Selama masa pendudukan Jepang (1942-1945), nama Batavia diubah lagi menjadi Jakarta. Pada tanggal 17 Agustus 1945 Ir. Soekarno membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Jakarta dan Sang Saka Merah Putih untuk pertama kalinya dikibarkan. Kedaulatan Indonesia secara resmi diakui pada tahun 1949. Pada saat itu juga Indonesia menjadi anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Pada tahun 1966, Jakarta memperoleh nama resmi Ibukota Republik Indonesia. Hal ini mendorong laju pembangunan gedung-gedung perkantoran pemerintah dan kedutaan negara sahabat. Perkembangan yang cepat memerlukan sebuah rencana induk untuk mengatur pertumbuhan kota Jakarta. Sejak tahun 1966, Jakarta berkembang dengan mantap menjadi sebuah metropolitan modern. Kekayaan budaya berikut pertumbuhannya yang dinamis merupakan sumbangan penting bagi Jakarta menjadi salah satu metropolitan terkemuka pada abad ke-21.

Abad ke-14 bernama Sunda Kelapa sebagai pelabuhan Kerajaan Pajajaran.

22 Juni 1527 oleh Fatahilah, diganti nama menjadi Jayakarta (tanggal tersebut ditetapkan sebagai hari jadi kota Jakarta keputusan DPR kota sementara No. 6/D/K/1956).

4 Maret 1621 oleh Belanda untuk pertama kali bentuk pemerintah kota bernama Stad Batavia.

1 April 1905 berubah nama menjadi ‘Gemeente Batavia’.

8 Januari 1935 berubah nama menjadi Stad Gemeente Batavia.

8 Agustus 1942 oleh Jepang diubah namanya menjadi Jakarta Toko Betsu Shi.

September 1945 pemerintah kota Jakarta diberi nama Pemerintah Nasional Kota Jakarta.

20 Februari 1950 dalam masa Pemerintahan. Pre Federal berubah nama menjadi Stad Gemeente Batavia.

24 Maret 1950 diganti menjadi Kota Praj’a Jakarta.

18 Januari 1958 kedudukan Jakarta sebagai Daerah swatantra dinamakan Kota Praja Djakarta Raya.

Tahun 1961 dengan PP No. 2 tahun 1961 jo UU No. 2 PNPS 1961 dibentuk Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya.

31 Agustus 1964 dengan UU No. 10 tahun 1964 dinyatakan Daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya tetap sebagai Ibukota Negara Republik Indonesia dengan nama Jakarta.

Tahun1999, melalaui uu no 34 tahun 1999 tentang pemerintah provinsi daerah khusus ibukota negara republik Indonesia Jakarta, sebutan pemerintah daerah berubah menjadi pemerintah provinsi dki Jakarta, dengan otoniminya tetap berada ditingkat provinsi dan bukan pada wilyah kota, selain itu wiolyah dki Jakarta dibagi menjadi 6 ( 5 wilayah kotamadya dan satu kabupaten administrative kepulauan seribu)

Sepatu Ramah Lingkugan!

Posted in Clothing on September 20, 2008 by judyoplasma

Adidas baru baru ini mengeluarkan sepatu ramah Lingkungan < bukan karena terbuat dari daun atau kertas
tapi sepatu ini menggunakan bahan daur ulang. Warna dari sepatu ini menurutku seperti sayuran ( apa karena temanya eco friendly ya, jd warnanya kayak kentang hehehe )

Sepatu ini bisa di dapatkan di adidas terdekat seharga 140 USD ( kira kira kita bs dapet berapa kentang yaaaa )

kira2 sepatu ini masuk jakarta ga yaa??
we hope so

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.