Hijrah ke Jakarta, Jadi PETANI


Carman (kiri) bersama tiga pekerjanya, Sutin, Damu, dan Sawan beristirahat sejenak di pinggir sawah garapan mereka di Jl Rawa Binong, Lubang Buaya, Jakarta Timur. Pria asal Indramayu ini sudah menjadi warga Jakarta dan merantau ke Ibukota menjadi petani.

Jakarta masih menjadi magnet warga desa di penjuru Tanah Air. Tak heran, setiap tahun ribuan pendatang baru dari pelosok-pelosok daerah datang ke Ibukota yang kini berpenduduk sekitar 10 juta ini. Mereka mengadu nasib, menjalani kehidupan yang keras, dan terkadang menantang risiko, demi kehidupan lebih baik.

Hal itulah yang dilakukan Carman (35), warga Indra- mayu, Jawa Barat. Impitan ekonomi dan kemiskinan hidup di Indramayu yang memaksanya merantau ke Ibukota. Ketika itu, usianya belum genap 17 tahun. Mimpinya, dia ingin bekerja di salah satu dari ratusan gedung pencakar langit di Jakarta, seperti yang kerap dilihatnya di TV.

Bagi banyak orang desa, termasuk Carman, Jakarta menawarkan mimpi yang menggiurkan. Tapi, mimpi itu belum terwujud sampai sekarang.

Carman, yang hanya mengenyam pendidikan hingga kelas 5 SD itu, bertahun-tahun bergulat mencari sesuap nasi. Berbagai profesi dia tekuni.

Anak petani ini sempat menjadi pedagang buah. Dia juga pernah beberapa tahun bekerja menjadi kuli kontrak di salah satu perusahaan swasta rekanan PLN di Kebayoran, Jakarta Selatan.

“Saya tidak punya ijazah SD, makanya sulit mendapat kerja di sini (Jakarta, Red). Bertahun-tahun saya ikut teman nanam kabel listrik untuk PLN ke perumahan- perumahan,” ujarnya saat ditemui pekan lalu.

Dia menyadari, dengan pendidikan yang rendah, pekerjaan yang mengandalkan otot yang paling mungkin dia lakoni. Selepas itu, dia alih profesi menjadi tukang sayur.

Menjadi Petani

Selama di Jakarta, Carman menetap di Lubang Buaya, Jakarta Timur. Dia menikahi Kasiyati, yang juga berasal dari Indramayu.
Di Lubang Buaya, Carman melihat hamparan sawah di sisi Jalan Rawa Binong, Kelurahan Lubang Buaya, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur.

Jika menelusuri jalan raya dari Jl Raya Pondok Gede menuju Setu atau ke arah Bambu Apus, areal persawahan itu ada di sebelah kiri jalan. Warga setempat menyebutnya Jalan Raya Lubang Buaya-Setu.

Dia sempat terkejut, ternyata di Jakarta masih ada sawah, mirip yang ada di kampung halamannya. Sawah di Lubang Buaya itu tidaklah luas, paling sekitar enam hektare (ha). Bau sawah, tanah, dan tanaman padi di Rawa Binong, mengingatkannya pada Indramayu.

Carman terusik, karena sawah itu tak semuanya ditanami padi. Sebagian lahan terbengkalai tak terurus. Sementara di Indramayu, dia dan warga setempat yang notabene petani penggarap, sangat sulit mencari lahan persawahan.

Makanya ketika bertemu sang pemilik lahan, B Bian, pertengahan tahun 2000, Carman langsung menawarkan diri menggarap lahan terbengkalai itu. Gayung bersambut. Dia mendapat izin menggarap sebagian lahan seluas 7.000 meter persegi.
Di Lubang Buaya, Bian memiliki lahan paling luas, sekitar 3 ha. Selebihnya dimiliki H Ramin, Suin, Misar, masing-masing sekitar 1 ha. Juga ada sawah seluas 2.000 meter persegi milik Ocan. Semuanya warga Betawi asli.

Sebagian sawah itu ada yang digarap sendiri, ada juga yang digarap warga sekitar. Hanya Carman yang datang jauh-jauh dari Indramayu menggarap sawah di Lubang Buaya.

“Memang unik, dia datang dari Indramayu ke Jakarta, malah jadi petani. Tapi dia termasuk ulet. Buktinya sekarang dia mampu menggaji tiga anak buah yang didatangkan dari Indramayu untuk kerja di sawahnya,” ujar Jayadi (58), warga setempat yang menjadi petani penggarap di Lubang Buaya.

Hal senada diungkapkan Misar, petani asli Lubang Buaya. Menurut dia, sistem bertani yang diterapkan Carman bagus. Temasuk dalam pengairannya. Carman bahkan bisa mengalirkan air hanya dari selokan kecil di sisi Jalan Rawa Binong. Konon, air itu mengalir dari kawasan Ujung Aspal, Pondok Gede.

Benar juga, saat petani asli Lubang Buaya berhenti bersawah usai memanen akhir Agustus lalu dan areal sawah kering karena belum datang hujan, Carman masih terus beraktivitas. Sawahnya penuh air. Dia masih menanam, tetapi bukan padi, melainkan mentimun dan kacang tanah.
Carman hanya tersenyum jika disindir jauh-jauh merantau ke Jakarta hanya untuk menjadi petani.

“Ya, namanya usaha. Penghasilannya juga lumayan,” katanya.
Menurut ayah tiga anak ini, ketimbang di Indramayu, bertani di Ibukota banyak kelebihannya. Sewa lahan tidak mahal, dan bisa dibayar sehabis panen dengan sistem bagi hasil. Kalau di Indramayu, sebelum menanam, petani harus membayar secara tunai ke pemilik lahan. Makanya, jika gagal panen, petani penggarap akan rugi besar.
“Kalau di sini, toleransi dari pemilik lahan sangat besar. Kalau panen sedikit, pemilik lahan tidak menuntut banyak,” ujarnya.

Pemilik lahan juga tidak meminta bagian untuk tanaman lain yang ditanam Carman di sela-sela musim tanam padi. “Walaupun begitu, setiap ada hasilnya saya pasti bagi,” ujarnya.
Setiap kali panen, dia bisa menghasilkan tiga ton padi. Biasanya, dari hasil sebanyak itu, Carman memberi enam kuintal padi ke pemilik lahan. Dalam setahun, dia bisa panen dua kali.

Hasil panen tidak dijual di Jakarta, tetapi dibawa ke Indramayu untuk digiling menjadi beras. Sebab, harganya jauh beda. Di Jakarta, gabah kering giling harganya Rp 2.000 per kilogram (kg), sedangkan di Indramayu Rp 3.000/kg. Biasanya dia menyewa truk besar untuk mengangkut seluruh padinya ke Indramayu, dengan ongkos Rp 500.000.
Biasanya, Carman menyisakan delapan karung padi ukuran 50 kg untuk persediaan makan di Jakarta. Selebihnya dijual ke Indramayu.

Biaya produksi sekali musim tanam bisa mencapai Rp 3,5 juta. Jumlah itu untuk gaji tiga pekerjanya selama 20 hari sekitar Rp 40.000 per hari (belum termasuk makan dan rokok harian), bibit setengah kuintal, pupuk empat kuintal, obat-obatan dan ongkos angkut padi ke Indramayu. Setidaknya, sekali panen, Carman bisa membawa pulang uang sekitar Rp 2,5 juta hingga Rp 3 juta.
Keistimewaan lain yang dirasakannya dengan bertani di Jakarta, untuk menjual panen tanaman nonpadi, sangat dekat, sehingga tidak perlu ongkos besar.

“Harga mentimun dan kacang tanah di Jakarta lebih mahal ketimbang di Indramayu,” ujarnya. Harga mentimun di Indramayu Rp 300 per kg, sementara di Jakarta, sudah ada penampung yang mau membayar seharga Rp 500 per kg.
Selama setahun, dia bisa menanam mentimun tiga kali. Setiap panen dia bisa mendapatkan hasil senilai Rp 20 juta. “Tetapi modalnya juga besar. Sekali tanam mentimun, saya harus menyediakan uang minimal Rp 15 juta,” ujarnya.
Uang itu untuk biaya membuat membayar ongkos tenaga pembuatan galangan (lahan tanam) sekitar Rp 3 juta, bibit Rp 1 juta, obat-obatan Rp 2 juta, lanjar (tiang tempat dahan merambat) sekitar Rp 3 juta, pupuk Rp 3,6 juta, selebihnya biaya kuli selama 20 hari.

Menyekolahkan Anak

Carman kini merasakan hasil kerja kerasnya di Jakarta. Tiga anaknya yang tinggal di Indramayu sudah bersekolah, satu di bangku SLTA favorit di Indramayu dengan bayaran lumayan tinggi. Satunya lagi di bangku SD. Anak bungsunya belum sekolah.

“Saya ingin menyekolahkan mereka setinggi-tingginya semampu mereka. Sehingga tidak seperti bapaknya,” ujar Carman yang ditinggal mati ayahnya saat masih duduk di kelas I SD.

Meskipun sibuk di sawah, dia tak pernah lupa meluangkan waktu bertemu anak-anaknya. Bahkan, beberapa kali dia mengajak tiga anaknya ke Jakarta, berwisata ke Kebun Binatang Ragunan, Monas, atau ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

Carman berharap bisa bertahan lama menjadi petani di Jakarta. Namun, terbersit kekhawatiran melihat pesatnya pembangunan fisik di Jakarta. Tak jauh dari Rawa Binong, dua perumahan elite baru dibangun. Dia cemas, pengusaha properti Jakarta berkocek tebal melirik areal persawahan Lubang Buaya. “Kalau memang nantinya sawah ini mau dijual pemiliknya, saya mau bilang apa,” ujarnya pasrah.

Sudah barang tentu, padi, mentimun, dan kacang tanah, hasil garapan Carman bakal kalah bersaing dengan cakar-cakar beton bangunan tempat tinggal, perkantoran, dan pusat perbelanjaan. [SP/Yuliantino Situmorang]

sumber : suarapembaruan.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: